Jangan-Bersedih1

Sahabat ku

Terimakasih kerana ' FOLLOW ' blogku ini, semoga Allah akan merahmati hidup kita semua...aamin yarabbal'alamin.
Memaparkan catatan dengan label Al-Kisah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Al-Kisah. Papar semua catatan

Kisah Jazan

Pada suatu ketika Abdullah bin Mas'ud (ra) melewati wilayah di bandarQufa. Di sana, terdapat sekelompok kaum yang sedang berkumpul mengadakan pesta. Mereka asyik meminum arak. Seorang penyanyi bernama Jazan adalah penghibur mereka. Jazan memiliki suara yang sangat merdu.

Apabila  Abdullah bin Mas'ud mendengar suaranya, ia berkatadengan takjub, "Sungguh merdu suaranya Betapa baiknya kalau dia menggunakan suara itu untuk melafazkan bacaan Al-Quran!." Setelah itu, Abdullah menutupi kepalanya dengan kain dan meninggalkan tempat itu. Ketika Jazan melihat Abdullah bin Mas'ud pergi, dia bertanya, "Siapakah  itu  dan apakah yang dia katakan?" Mereka pun berkata kepadanya, "Ia Abdullah bin Mas'ud, seorang sahabat Nabi Muhammad (saw) Dia mengatakan bahawa suara anda sangat indah dan merdu. Betapa indahnya jika anda menggunakan suara anda untuk membaca Al-Quran! "

Jazan terasa takut lalu dia membuang alat muzik itu dan berlari ke arah Abdullah bin Mas'ud. Apabila sesampainya  dia kepada Abdullah bin Mas'ud lalu dipeluknya Abdullah bin Mas'ud sambil menangis deras. Abdullah bin Mas'ud berkata kepadanya,"Mengapa saya harus tidak mencintai orang yang mencintai Allah?" Setelah itu, Jazan bertaubat kepada Allah dan tinggal disyarikat Abdullah bin Mas'ud untuk mempelajari ajaran Al-Quran dan Islam yang lain. Dia belajar dengan tekun sehinggalah ia menjadi salah satu ulama' besar di zamannya....wallahhu'alam




Pengajaran dari cerita;
Manafaatkanlah suara yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kita dengan bacaan ayat suci Al-Quran, berbicara dengan baik sesama mukmin itu adalah lebih baik dan akan mendapat ganjaran yang hebat dari Allah SWT lalu bersyukurlah kepada-Nya. Janganlah kita persiakan suara kita kearah maksiat kerana mulut akan menjadi saksi akan segala percakapan kita diakhirat kelak, jika baik bicaramu maka syurga lah tempatmu, jika sebaliknya maka nerakalah tempatmu....

subhanallah.......

Sumber: Diambil dari buku "Tambihul Ghafileen" oleh Syaikh AbulLaith Samarkandi.

Enemy Becomes a Friend

In the sixth year after the hijrah, the Prophet, peace be upon him, decided to expand the scope of his mission. He sent eight letters to rulers in the Arabian peninsula and surrounding areas inviting them to Islam. One of these rulers was Thumamah ibn Uthal.

Thumamah was one of the most powerful Arab rulers in pre-Qur'anic times. This is not surprising since he was a chieftain of the Banu Hanifah and one of the rulers of al- Yamamah whose word no one dared to challenge or disobey.

When Thumamah received the Prophet's letter, he was consumed by anger and rejected it. He refused to listen to the invitation of Truth and goodness. More than that, he felt a strong desire to go and kill the Prophet and bury his mission with him.

Thumamah waited and waited for a convenient time to carry out his design against the Prophet until eventually forgetfulness caused him to lose interest. One of his uncles, however, reminded him of his plan, praising what he intended to do.

In the pursuit of his evil design against the Prophet, Thumamah met and killed a group of the Prophet's companions. The Prophet thereupon declared him a wanted man who could lawfully be killed on sight.

Not long afterwards, Thumamah decided to perform umrah. He wanted to perform tawaf around the Ka'bah and sacrifice to the idols there (The people of Makkah, before becoming Muslims, placed hundreds of idols in the Holy Ka'bah. These idols were later destroyed by the Prophet). So he left al-Yamamah for Makkah. As he was passing near Madinah, an incident took place which he had not anticipated.

Groups of Muslims were patrolling the districts of Madinah and outlying areas on the lookout for any strangers or anyone intent on causing trouble. One of these groups came upon Thumamah and apprehended him but they did not know who he was. They took him to Madinah and tied him to one of the columns in the mosque. They waited for the Prophet himself to question the man and decide what should be done with him.

When the Prophet was about to enter the mosque, he saw Thumamah and asked his companions, "Do you know whom you have taken?"

"No, messenger of God," they replied.

"This is Thumamah ibn Uthal al-Hanafi," he said. "You have done well in capturing him."

The Prophet then returned home to his family and said, "Get what food you can and send it to Thumamah ibn Uthal." He then ordered his camel to be milked for him. All this was done before he met Thumamah or had spoken to him.

The Prophet then approached Thumamah hoping to encourage him to become a Muslim. "What do you have to say for yourself" he asked.

"If you want to kill in reprisal," Thumamah replied, "you can have someone of noble blood to kill. If, out of your bounty, you want to forgive, I shall be grateful. If you want money in compensation, I shall give you whatever amount you ask."

The Prophet then left him for two days, but still personally sent him food and drink and milk from his camel. The Prophet went back to him and asked, "What do you have to say for yourself" Thumamah repeated what he had said the day before. The Prophet then left and came back to him the following day. "What do you have to say for yourself?" he asked again and Thumamah repeated what he had said once more. Then the Prophet turned to his companions and said, "Set him free."

Thumamah left the mosque of the Prophet and rode until he came to a palm grove on the outskirts of Madinah near al-Baqi' (a place of luxuriant vegetation which later became a cemetery for many of the Prophet's companions). He watered his camel and washed himself well. Then he turned back and made his way to the Prophet's mosque. There, he stood before a congregation of Muslims and said:

"I bear witness that there is no god but Allah and I bear witness that Muhammad is His servant and His messenger." He then went to the Prophet, upon whom be peace, and said:

"O Muhammad, by God, there was never on this earth a face more detestable than yours. Now, yours is the dearest face of all to me."

"I have killed some of your men," he continued, "I am at your mercy. What will you have done to me?"

"There is now no blame on you, Thumamah," replied the Prophet. "Becoming a Muslim obliterates past actions and marks a new beginning."

Source: "Companions of The Prophet", Vol.1, By: Abdul Wahid Hamid.


Pemotong pokok dan iblis




Ada seorang lelaki soleh di Bani Israel yang selalu sibuk menyembah Allah. Sekumpulan orang datang kepadanya dan mengatakan kepadanya bahawa suku kaum berhampiran menyembah pokok. Berita itu membuatkan dia marah , lalu dengan sebuah kapak di bahunya ia pergi untuk menebang pokok itu.Dalam perjalanan, dia bertemu Iblis yang menyerupai seorang tua dan bertanya kemana dia hendak pergi. Dia mengatakan dia hendak memotong sebatang pokok . Iblis berkata, "Kau tak perlu peduli dengan pokok ini, ada lebih baik kau fikirkan ibadah kau dan jangan melakukan demi sesuatu yang bukan perhatian kau." "Ini juga satu ibadah," balas lelaki tersebut.

Kemudian Iblis berusaha mencegah dia dari memotong pokok tersebut, dan berlaku pergaduhan antara keduanya, di mana lelaki tersebut dapat mengalahkan syaitan. Apabila dirinya benar-benar tak berdaya, Iblis memohon untuk dibebaskan, dan ketika lelaki tersebut melepaskannya, ia kembali berkata, "Allah belum mengutuskan pemotongan pokok ini wajib pada kau. Kau tidak akan kehilangan apapun jika kau tidak memotongnya. Jika Allah mahukan pokok ini dipotng, Allah bisa saja lakukan melalui salah satu dari sekian banyak nabi. " lelaki itu tetap berkeras hendak memotong pokok itu. Berlaku lagi perkelahian antara mereka berdua dan lelaki itu dapat mengalahkan syaitan. "Baiklah dengarkan," kata Iblis, "Aku mencadangkan suatu penyelesaian yang akan menguntungkan engkau." lelaki tersebut bersetuju, dan Iblis berkata, "Engkau adalah orang miskin, beban hanya di bumi ini. Jika engkau tinggalkan pokok ini, aku akan membayar tiga syiling emas kepada engkau setiap hari dan setiap hari kau akan menemui di bawah bantal tidur engkau .. Dan wang itu, kau boleh memenuhi segala keperluan engkau, boleh membantu yang memerlukan, dan melakukan banyak hal-hal soleh yang lain. 

Pemotongan pokok akhirnya bersetuju dan ia menerimanya. Ia menemukan wang itu dua hari berturut-turut, tetapi pada hari ketiga tiada apa-apa. Dia marah, lalu mengambil kapaknya dan pergi untuk memotong pokok tersebut. Iblis menyamar sebagai seorang tua bertemu lagi dengannya dan bertanya kepadanya kemana tujuan lelaki itu "Aku hendak memotong pokok," teriak lelaki tersebut. "Aku tidak akan membiarkan engkau melakukannya," kata Iblis. Perkelahian berlaku lagi antara mereka, tapi kali ini Iblis berada di atas angin dan mengalahkan lelaki tersebut. Lelaki itu terkejut akan kekalahan sendiri, dan bertanya penyebab kejayaan si Iblis.  Lalu Iblis menjawab, "Pada awalnya, kemarahan engkau  itu murni untuk mendapatkan kesenangan Allah, dan kerana itu Allah SWT membantu engkau untuk mengalahkan saya, tetapi sekarang setelah engkau marah demi syiling emas itu maka itulah sebabnya kekuatan engkau hilang."


Pengajaran;
" Janganlah kita bersikap tamak, sombong dan angkuh...sesungguhnya sesiapa yang bersikap begitu adalah sahabat syaitan laknatullah.......wallahu'alam


Sumber: Dari buku "Ihyaa-ul Ulum Ud Deen" oleh Imam Ghazali (ra).

Dosa Tinggal Solat Lebih Besar Daripada Zina

Assalammualaikum wbt.
Syukur alhamdulillah, hari ini aku ingin berkongsi bersama kalian sebuah cerita menarik yang penuh dengan pengajaran dan peringatan buat kita semua "Ya Kekasih Allah". Cerita ini dikutip daripada buku 30 kisah teladan-KH Abdurrahman Arroiys dan dikongsikan bersama rakan-rakan blog yang lain, dan sudah pasti ramai yang telah membaca kisah ini namun apa yang pentingnya cerita ini memberi pengajaran dan peringatan buat diriku dan kita semua dalam mencari keredhaan Allah SWT. .....meskipun diulang cerita beribu kali ianya amat bermanafaat dan tidak membosankan. ( Sebagaimana kita membaca Al-Quran...adakah pernah kita bosan?..sedangkan didalamnya penuh dengan peringatan dan pengajaran dari Allah SWT buat umat manusia akhir zaman )...


Ceritanya;

Pada satu senja yang lengang, kelihatan seorang wanita berjalan dalam keadaan terhuyung-hayang. Pakaiannya yang serba hitam menunjukkan dia dicengkam kesedihan manakala kerudungnya menutup rapat hampir seluruh wajahnya.

Walaupun tidak bersolek atau memakai perhiasan lain di tubuhnya, kulitnya yang bersih, memiliki tubuh yang ramping dan rona wajah yang ayu, tetap tidak dapat menghapuskan kepedihan yang sedang membelenggu hidupnya.

Dia melangkah perlahan-lahan mendekati rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu perlahan-lahan sambil mengucapkan salam. Apabila terdengar ucapan ‘silakan masuk’ dari dalam, wanita cantik itu melangkah masuk sambil kepalanya terus tertunduk.

Air matanya berderai ketika dia berkata: “Wahai Nabi Allah, tolonglah saya, doakan saya supaya Tuhan berkenan mengampunkan dosa keji saya,” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa a.s. terkejut. “Saya takut mengatakannya,” jawab wanita cantik itu. “Katakanlah, jangan ragu-ragu,” desak Nabi Musa


Lalu wanita itu memulakan cerita, “Saya….telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, “Dari penzinaan itu, saya pun…. hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya…cekik lehernya sampai…mati,” cerita wanita itu sambil menangis sekuat-kuat hati.

Mata Nabi Musa berapi-api dan dengan muka yang berang, dia mengherdik, “Perempuan jahat, nyah kamu dari sini! Supaya seksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku kerana perbuatanmu. Pergi!” teriak Nabi Musa sambil memalingkan muka kerana jijik.

Mendengar herdikan itu, wanita itu pun segera bangun dan berlalu dengan hati yang hancur luluh. Ketika keluar dari rumah Nabi Musa, ratapannya amat memilukan. Dia terfikir ke mana lagi dia hendak mengadu kerana apabila seorang Nabi sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang betapa besar dosanya dan jahat perbuatannya.

Tetapi dia tidak tahu bahawa sepeninggalannya, Malaikat Jibril turun berjumpa Nabi Musa. Lalu Jibril bertanya: “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu ada dosa yang lebih besar daripadanya?”

Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita penzina dan pembunuh itu?” tanya Nabi Musa kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?” “Ada,” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Nabi Musa lagi. “Orang yang meninggalkan solat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina.”

Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa kemudian memanggil wanita itu untuk menghadapnya semula. Dia mengangkat tangan dengan khusyuk untuk memohon ampunan kepada Allah S.W.T untuk wanita itu.

Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahawa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu ke atas dirinya. Bererti, dia seakan-akan menganggap remeh perintah Allah, bahkan seolah-olah menganggap Allah tiada hak untuk mengatur dan memerintah hambaNya.

Sedangkan orang yang bertaubat dan menyesali dosanya dengan bersungguh-sungguh bererti masih mempunyai iman di dalam dada, yakin bahawa Allah S.W.T itu ada dan berada di jalan ketaatan kepadaNya. Itulah sebabnya Allah pasti mahu menerima taubatnya.....Subhanallah

Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang...Allahhu Akbar

Kisah Bumi dan Langit

Adapun terjadinya peristiwa Israk dan Mikraj adalah kerana bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, "Hai langit, aku lebih baik dari kamu kerana Allah S.W.T. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-tanaman, beberapa gunung dan lain-lain."

Berkata langit, "Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, 'Arasy, kursi dan syurga ada padaku."

Berkata bumi, "Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik)."

Bumi berkata lagi, "Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah seru sekalian alam, seutama- utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syariatnya juga di tempatku."

Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap Allah S.W.T dengan berkata, "Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab soalan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu ya Allah supaya Muhammad Engkau dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga."

Lalu Allah S.W.T mengabulkan permintaan langit, kemudian Allah S.W.T memberi wahyu kepada Jibrail A.S pada malam tanggal 27 Rejab, "Janganlah engkau (Jibrail) bertasbih pada malam ini dan engkau 'Izrail jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini."

Jibrail A.S. bertanya, " Ya Allah, apakah kiamat telah sampai?"

Allah S.W.T berfirman, maksudnya, "Tidak, wahai Jibrail. Tetapi pergilah engkau ke Syurga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada Muhammad dengan buraq itu."

Kemudian Jibrail A.S. pun pergi dan dia melihat 40,000 buraq sedang bersenang-lenang di taman Syurga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad. Di antara 40,000 buraq itu, Jibrail A.S. terpandang pada seekor buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibrail A.S. menghampiri buraq itu lalu bertanya, "Mengapa engkau menangis, ya buraq?"

Berkata buraq, "Ya Jibrail, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mahu makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan."

Berkata Jibrail A.S., "Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu."

Kemudian Jibrail A.S. memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad S.A.W. 

Wallahu'alam.....